10 March 2011

jerit tangis dalam keheningan

Mama sayang,

Aku di surga sekarang, duduk di pangkuan Tuhan.
Ia mengasihiku dan menangis bersamaku
sebab pedih pilu hatiku.
Begitu ingin aku menjadi putri mungilmu.

Tidak terlalu mengerti aku akan apa yang telah terjadi.
Aku begitu bergairah ketika mulai menyadari keberadaanku.
Aku ada di suatu tempat yang gelap, namun nyaman.
Aku melihat aku punya jari-jari dan jempol.
Aku cantik seturut perkembanganku,
tapi belum siap meninggalkan tempatku.

Aku menghabiskan sebagian besar waktuku dengan berpikir atau tidur.
Bahkan sejak hari-hari pertamaku,
aku merasakan ikatan istimewa antara engkau dan aku.
Kadang aku mendengarmu menangis, dan aku menangis bersamamu.
Kadang engkau berteriak dan memaki, lalu aku menangis.
Aku dengar Papa memaki balik.
Aku sedih dan berharap engkau akan segera baik kembali.
Aku heran mengapa engkau begitu sering menangis.

Suatu hari engkau menangis hampir sepanjang hari.
Pilu hatiku karenanya.
Tak dapat kubayangkan mengapa engkau begitu berduka.

Pada hari itu juga, hal yang paling mengerikan terjadi.
Suatu monster yang amat keji masuk ke tempat hangat dan nyaman di mana aku berada.
Aku sangat takut, aku mulai menjerit,
tapi tak sekalipun engkau berusaha menolong.
Mungkin engkau tak pernah mendengarku…

Monster itu semakin lama semakin dekat sementara aku terus berteriak,
“Mama, Mama, tolong aku…, Mama… tolong aku.”

Suatu teror yang ngeri aku rasakan.
Aku berteriak dan berteriak… hingga tak sanggup lagi.
Lalu monster itu mulai mencabik lenganku.
Sungguh sakit rasanya, sakit yang tak kan pernah dapat kuungkapkan dengan kata.
Monster itu tidak berhenti.
Oh… bagaimana aku harus mohon agar ia berhenti.
Aku menjerit sekuat tenaga sementara ia mencabik putus kakiku.

Sepenuhnya aku dalam kesakitan, aku sekarat.
Aku tahu tak kan pernah aku melihat wajahmu
atau mendengarmu membisikkan betapa engkau mengasihiku.
Aku ingin menghapus butir-butir air matamu.
Aku punya begitu banyak rencana untuk membuatmu bahagia, Mama…
Tapi aku tak dapat. Mimpi-mimpiku musnah sudah.

Walau menanggung sakit tak terperi
pedih dan pilunya hati kurasakan melampaui segalanya.
Lebih dari segalanya aku ingin menjadi putrimu.

Tak ada gunanya sekarang, aku meregang nyawa dalam sengsara tak terkatakan.
Hanya hal-hal buruk yang terlintas di benakku.
Begitu ingin aku mengatakan bahwa aku mengasihimu, sebelum aku pergi.
Tapi, aku tak tahu kata-kata yang dapat engkau mengerti.

Dan segera saja,
aku tak lagi punya napas untuk mengatakannya;
aku mati.

Aku merasa diriku terangkat,
seorang malaikat besar membawaku ke suatu tempat yang besar dan indah.
Aku masih menangis, tapi segala rasa sakit tubuhku sirna sudah.
Malaikat membawaku kepada Tuhan dan membaringkanku dalam pelukan-Nya.
Tuhan mengatakan bahwa Ia mencintaiku, dan bahwa Ia adalah Bapa-ku.
Lalu, aku merasa bahagia.
Kutanya pada-Nya, apa itu yang membunuhku.
Jawab-Nya,
“Aborsi, Aku menyesal anakku; karena Aku tahu bagaimana ngeri rasanya.”

Aku tidak tahu apa itu aborsi;
Aku pikir mungkin nama monster itu.

Aku menulis untuk mengatakan betapa aku mengasihimu…
dan mengatakan padamu betapa ingin aku menjadi putri mungilmu.

Aku telah berjuang sehabis-habisnya untuk hidup, aku ingin hidup…!
Kuat keinginanku, tapi aku tak mampu;
monters itu terlalu kuat…

Dicabik-cabiknya lengan dan kakiku dan akhirnya seluruh tubuhku…
Tak mungkin bagiku untuk hidup.
Aku hanya ingin engkau tahu bahwa aku berusaha tinggal bersamamu.
Aku tidak mau mati!

Juga Mama, berhati-hatilah terhadap monster aborsi itu.
Mama, aku mengasihimu…
Aku sedih engkau harus menanggung rasa sakit seperti yang kualami.

Berhati-hatilah,

Peluk cium,
Bayi Perempuanmu…

No comments: