25 October 2019

Catatan untuk pasangan -- part 1

Tadi di jalan saat mengendarai motor, ku melihat sepasang kekasih (mungkin), si pria menarik tangan si wanita untuk mendekap dari belakang lebih erat.

Tiba-tiba terpikir, kadang aku sebagai wanita juga ingin "ditarik" supaya diri ini merasa "oh aku diinginkan pria ini". Tapi terkadang pria salah tanggap, mereka "mungkin" berpikir si wanita memang tidak mau memeluknya dengan erat.

Jadi, gimana dong solusinya? Kadang kita sebagai manusia memang suka pujian. Jadi tidak ada salahnya, saat pria merasa ingin di dekap dan merasa dekapan wanita kurang erat, pria ungkapkan saja. Misal, "sayang, peluk aku yang erat dong. Aku ingin dipeluk erat sama kamu."

Atau ditambah kalimat manis lainnya. Dijamin kalau wanita kamu itu tidak lagi bete dan sayang kamu, dia pasti melting dan memeluk kamu dengan eratnya. Semua itu kembali ke gengsi mengungkap perasaan di hati masing-masing.

Kalau pria tidak peka, wanita juga harus angkat bicara. Jangan ada gengsi diantara sepasang kekasih. Pujian, kata manis, rasa cinta tetap harus ada di hubungan kalian untuk penyeimbang bumbu negatif lainnya saat kekasih sedang beradu pendapat, tidak seiya sekata atau yang lainnya.

Spread the love to your partner every moment 💙

14 August 2019

Hatiku

Pernah ga sih permisa di blog ini merasakan hal yang ada di hati gw sekarang ini? Kalo di gambarkan nih ya, hati gw kayak bulan full moon 🌕 yang kalo dilihat dari Bumi, keliatan indah bgt. Orang lain selain si bulan sendiri, gak tau berapa jumlah hole yang ada di dirinya. Yang ternyata walau dari luar, dipandang orang tuh utuh. Sebenernya hatiku ini dalamnya sudah banyak selotipnya untuk mencegah kehancuran si hati.

Tapi Tuhan baik, aku percaya itu. Tiap aku bertengkar, aku memang sering angkat bicara, adu argumen, tapi masih dikasih rasa sabar untuk memulai perdamaian. Tiap aku tidak fokus di jalan, ada saatnya aku tidak sadar dan kaget sudah sampai sejauh itu perjalananku, ku yakin ada Tuhan yang menjagaku dalam ketidak-fokusanku. Tiap rasa ingin memaki, ada tangan menutup mulutku. Tiap rasa ingin memukul, ada tangan yang memegang. Tiap rasa ingin berteriak, ada suara di hati yang menenangkan. Itu Tuhan. Tiap down aku diingatkan untuk kembali berdoa kepada Tuhan, walau seringkali aku lupa untuk berserah.

Suara Tuhan yang sering ku abaikan. Padahal Ia yang memberikan aku nafas yang berharga ini supaya aku bisa hidup. Ia yang memberikan aku rejeki yang sampai hari ini masih bisa di rasakan lewat makanan yang bisa di santap tanpa kelaparan yang melanda. Memang belum bisa leluasa beli ini-itu, tapi bisa belanja bulanan saja, aku sudah bersyukur. Tapi apakah kamu bisa? Yuk sama-sama belajar bersyukur.

Rejeki lainnya, bisa sekolah tamat juga sudah rejeki yang di atur. Pakai otak untuk berpikir jernih dan mulut untuk berkata positif. Pakai hati untuk menjadi bijaksana dan rekonsiliasi dengan diri sendiri. Terima apa adanya diri kita sendiri dulu, baru kita bisa lihat orang lain yang menerima kamu apa adanya.

Cheers 🍻

26 June 2019

RASA

Cuma disini gw bisa ungkapkan rasa. Blog ini mungkin gak ada yang inget untuk membukanya. Gw pun sudah lama tak update. Tadinya mau tulis perasaan hari ini, tapi entah mengapa, sudah memudar emosi yang baru saja meluap.

Pernah gak sih kalian merasakan rasa seperti itu? (tadi katanya gak ada yang buka blog ini, jeung! Kok lu nanya!) Rasa yang tadinya tuh lagi emosi banget sama seseorang, emosi sampe ke ubun-ubun. Sampe gw tuh mau nangis saking ga tertahankan. Air mata tuh udah di ujung bulu mata, tinggal netes aja. Gw tadi udah siapin kata-kata makian, ibarat whatsapp tuh, gw lagi typing tapi ga gw kirim.

Tapi gw batalkan kirim text yang sebenarnya sih ga makian banget, lebih ke uneg-uneg sih. Gw hapus. Gw tarik nafas (lupa dibuang) terus gw taroh handphone. Terus abis itu tenang dan buyar itu emosi. Padahal baru mau luapin disini, tapi jadinya gatau mau tulis apa saking hampanya ini perasaan.

Gw sering banget melewati hal ini. Ibarat masuk angin buat para ojek online, sudah sering. Sebulan sekali-dua kali lah hal ini terjadi. Pertengkaran hal kecil, tapi gw merasa, lagi-lagi gw yang mengalah. Bukan soal siapa benar-siapa salah. Gw capek sama perasaan dimana, dia si partner bertengkar gw ini, merasa bersalah, baper dan akhirnya bilang hal-hal konyol, yang dimana itu adalah kelemahan gw.

Kayak seolah, dia tuh sengaja bilang begitu supaya gw berhenti bertengkar sama dia, gw mengalah, gw meredam amarah gw, gw yang jadinya merasa bersalah sama dia dan gw yang berbalik memohon dia supaya gak melakukan hal konyol itu. Sesakit itu perasaan gw. Bukan sakit karena dipukul, tapi karena gw kayak di permainkan. Sudah sering juga dia minta maaf karena mengecewakan gw, tapi lebih seringnya gw ga bisa ekpresiin kesedihan gw karena kalo gw ekspresiin, dia bisa bersikap lebih drop lagi. And then, berulang lagi drama tadi.

Begitulah hidup. Kadang ketawa, kadang nangis. Kadang hampa, gak bisa ketawa lepas, gak bisa juga nangis bombay. Tapi begitulah hidup. Tetap harus dijalani dengan dramanya. Tapi daripada kayak drama korea yang alur sedihnya bikin hati tertusuk, ya mending sih drama bollywood, yang walaupun sedih, masih bisa joget gitu.

Sekian cerita dari manusia yang masih bertahan hidup demi anaknya, cheers.